BERITA

Diskusi Dwi Mingguan Bahas Pengakuan Jerusalem sebagai Ibukota Israel


09 Dec 2017

komahi_amikom_jogja

Yogyakarta - Divisi Pengembangan Wacana Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas AMIKOM Yogyakarta kembali menyelenggarakan agenda diskusi rutin dua mingguan. Tema yang diusung dalam diskusi kali ini adalah respon terhadap pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trumph terhadap pengakuan Jerusalem sebagai ibukota Israel.

Sebagai pengantar diskusi, yaitu Novianti dan Priscila serta dihadiri oleh para dosen Prodi HI Universitas AMIKOM Yogyakarta disampaikan bahwa pengakuan Jerusalem sebagai ibukota Israel merupakan janji kampanye Trumph untuk memindahkan Kedubes Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Meskipun telah ada kesepakatan dunia yang menyatakan bahwa Jerusalem berada di bawah kewenangan internasional, namun Amerika dianggap melanggar sebanyak 28 Resolusi PBB dengan kebijakan yang ditempuh oleh Presiden Trumph, tandas Aditya Maulana Hasymi.

Selain itu, persoalan terkait lain yang juga dibahas adalah mengapa perdamaian antara Israel dan Palestina sulit diwujudkan? Bagaimana reaksi Indonesia terhadap pernyataan Presiden Donald Trumph? dan Bagaimana jika AS tetap pada pendiriannya untuk mendukung Isreal?

Reski Satris selaku panelis berpendapat bahwa Pidato Trumph tentang pengakuan Jerusalem sebagai ibukota Isreal adalah strategi AS untuk melihat peta kekuatan politik Islam pada konteks global.

Sementara itu, Seftina Kuswardini menjelaskan bahwa upaya perdamaian di Timur Tengah dapat dilakukan jika ada politik perimbangan kekuatan yang seimbang dalam politik internasional di Timur Tengah. Beliau menyatakan bahwa politik perimbangan kekuatan (balance of power) pernah berlangsung pada Perang Dingin dan relatif berhasil dalam memelihara stabilitas internasional.

Peserta diskusi lainnya, Bagus Kusuma berpandangan bahwa selama ini ketergantungan dunia terhadap eksistensi Amerika Serikat sangat besar dan jika saja ketergantungan tersebut dapat diminimalisir maka potensi-potensi perdamaian antara Palestina dan Israel dapat diwujudkan.

Bagian akhir diskusi membahas tentang reaksi Indonesia terhadap klaim Jerusalem sebagai ibukota Israel. Pemerintah Indonesia tampak bersikap tegas atas kebijakan AS, Menteri Luar Negeri Indonesia, dalam pertemuan Bali Democracy Forum (BDF) memberikan dukungan simbolis dengan menggunakan scraf berlogo bendera Palestina sebagai bentuk dukungan moril kepada Palestina.