HALAMAN

Artikel


MEMBACA KRITIS DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL
Oleh: Aditya Maulana Hasymi
Kemampuan membaca menjadi kecakapan yang tak bisa ditawar lagi. Bagaimana tidak, dengan perkembangan ilmu yang amat dinamis, membaca adalah sebuah kebutuhan agar tak tertinggal terlampau jauh. Tak hanya sekadar dengan membaca seperti kebanyakan, namun mahasiswa hubungan internasional juga dituntut untuk bisa membaca secara kritis. Read full text

_________________________________________________________

PERSAINGAN DAN KERJASAMA KAWASAN ASIA-PASIFIK
Oleh: Yoga Suharman
Kawasan Asia-Pasifik menjadi salah satu pusat gravitasi ekonomi dunia dalam beberapa dekade terakhir. Pasca Perang Dunia II, 'komunitas Pasifik'  muncul sebagai perhatian baru bagi para penstudi hubungan internasional, khususnya yang terkait dengan dinamika ekonomi-politik internasional dan keamanan (Ikenbery & Mastanduno, 2003: 3). Deskripsi Asia Pasifik sebagai wilayah pertumbuhan ekonomi, politik, militer dan strategis, baik secara multilateral atau aksi kolektif antarnegara sangat berkaitan dengan tren kerjasama untuk memelihara kemakmuran dan stabilitas internasional. Read full text

_________________________________________________________

DEMOKRASI DAN ORGANISASI INTERNASIONAL
Oleh: Yoga Suharman
Sejak tahun 1947, khusunya pasca Perang Dunia kedua, 23 negara menandatangani kesepakatan tentang tarif dan perdagangan. Kesepakatan ini kemudian dikenal dengan GATT (General Agreement on Trade and Tarrif). Proyek utama yang ingin dicapai dalam kesepakatan tersebut berkaitan dengan liberalisasi dan perluasan akses perdagangan dunia. Dalam kurun waktu lima dekade terakhir, GATT berkembang dengan menambah jumlah negara anggota dan menjadi organisasi yang dikenal dengan WTO. Tidak kurang dari 150 negara-negara di dunia tergabung sebagai organisasi tersebut dan saat ini WTO dipandang sebagai organisasi internasional yang mengendalikan 90% perdagangan dunia. Read full text

_________________________________________________________

QUO VADIS GERAKAN MAHASISWA
Rezki Satris, S.IP, MA
Tulisan ini merupakan refleksi atas gerakan mahasiswa yang saat ini telah “kebingungan” mencari arah tujuannya. Mahasiswa tidak lagi mampu memaknai gerakan mahasiswa sebagai sebuah gerakan the agent of change.  Padahal, ketika kita kembali ke sejarahnya, gerakan mahasiswa Indonesia adalah sejarah perubahan sesuai dengan konteks semangat zamannya. Gerakan mahasiswa muncul sesuai dengan zamannya yang menentukan perjuangan bangsa. Munculnya beberapa angkatan mahasiswa yang dimulai dari momentum 1908, 1928, 1945, 1966, 1978, dan 1998 di pentas sosial dan politik senantiasa dilandasi untuk melakukan kritik terhadap “status quo” dan mengharapkan perubahan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Read full text

_________________________________________________________

GOVERNMENTALITY DAN DISKURSUS PASAR TUNGGAL ASEAN
by: Yoga Suharman
Globalisasi dilihat sebagai simptom pertumbuhan ekonomi yang menggiring aktor internasional mengintregrasikan diri ke dalam pergaulan yang lebih intensif. Intensitas ini diilustrasikan dalam bentuk konvergensi aktor negara, pasar dan masyarakat. Banyak lembaga sibuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang kian tajam. Dalam bentuk yang aktual, ASEAN community dan pasar tunggal ASEAN adalah bentuk nyata dari meningkatnya intensitas hubungan regional. Kebutuhan partisipasi masyarakat seolah-olah dianggap penting, meskipun berpotensi menghambat kepentingan negara dan pasar. Pertanyaannya bagaimana ‘masyarakat’ yang terdiri dari aktor negara, pasar dan publik digiring untuk secara sadar mau berpartisipasi dan patuh terhadap wacana integrasi pasar? Read full text

_________________________________________________________________

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP KETAHANAN PANGAN (STUDI KASUS AFRIKA)
by: Seftina Kuswardini
Dalam pembahasan kali ini terdapat hubungan antara environmental security dengan food security, karena kebutuhan pangan sangat erat dengan sektor pertanian, sehingga jumlah pasokan makanan yang akan di distribusikan harus dapat tersebar dengan merata. Dan jika hasil pertanian tidak baik maka tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan yang ada. sedangkan keberhasilan pertanian tidak hanya dari faktor bibit dan pupuk serta teknologi, namun juga bergantung pada iklim/cuaca. Perubahan iklim juga berdampak pada perubahan musim tanam (pola tanam) Read full text